ASUMSI, PRINSIP, DAN KONSEP DASAR
AKUNTANSI
BAB 4
A. ASUMSI DASAR AKUNTANSI MENURUT
AICPA (American Institute of Certified Public Accountant)
Anggapan dasar atau asumsi dasar
akuntansi menurut Paul Grady (AICPA) adalah:
1.
Suatu masyarakat dan
susunan pemerintahan yang menjamin hak milik pribadi
2.
Kesatuan usaha yang
spesifik (specific business entities)
3.
Penggunaan unit
moneter di dalam rekening-rekening (monetary
expression in accounts)
4.
Kontinuitas usaha (going concern)
5.
Konsistensi antara periode-periode untuk kesatuan usaha yang sama (consistency between periods for the same
entity)
6.
Konservatif (Conservatism)
7.
Perbedaan dalam akuntansi diantara kesatuan-kesatuan yang bebas (diversity in accounting among independent
entities)
8.
Ketergantungan data dari pengendalian intern (dependability of data trough internal control)
9.
Cukup berarti (materiality)
10. Batas waktu dalam penyusunan
laporan keuangan membutuhkan taksiran-taksiran (timelines in financial reporting requires estimates)
B. ASUMSI DASAR AKUNTANSI MENURUT
PSAK (Prinsip dan Standar Akuntansi Keuangan)
1.
Kesatuan usaha khusus
2.
Kontinuitas usaha
3.
Unit moneter
4.
Periode waktu
C. PRINSIP/KONSEP DASAR AKUNTANSI
Prinsip akuntansi merupakan konsep dasar atau berupa anggapan
dasar yang digunakan sebagai pedoman dalam penentuan dan pengukuran nilai dalam
pelaksanaan kegiatan akuntansi. Prinsip yang digunakan untuk mencatat
transaksi dalam akuntansi ada lima, yaitu biaya historis, pengakuan pendapatan,
mempertemukan, konsistensi, dan pengungkapan penuh.
1.
Prinsip Biaya
Menurut prinsip biaya, biaya
perolehan atau biaya historis adalah dasar penilaian yang tepat untuk pengakuan
perolehan segala barang dan jasa, biaya (cost,
expenses) dan ekuitas.
Biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam uang, dari uang kas yang
dibelanjakan atau harta lain yang ditransfer, modal saham yang diterbitkan,
jasa yang dilaksanakan, atau utang yang dibuat, sebagai ganti dari barang atau
jasa yang diterima atau akan diterima.
Biaya dapat diklasifikasikan
sebagai yang belum jatuh tempo atau yang sudah jatuh tempo. Biaya yang belum
jatuh tempo (aktiva) adalah biaya yang dapat digunakan untuk menghasilkan
pendapatan yang akan datang. Biaya yang jatuh tempo adalah biaya tidak dapat
digunakan untuk menghasilkan pendapatan yang akan datang, dan oleh karena itu
dianggap sebagai pengurangan dari pendapatan berjalan atau dibebankan terhadap
laba ditahan.
2.
Prinsip Pendapatan
a.
Sifat dan komponen
pendapatan
Pendapatan telah ditafsirkan
sebagai arus masuk dari aktiva netto yang dihasilkan dari penjualan barang atau
jasa, arus kas dari barang atau jasa dari perusahaan ke pelanggan, dan produk
perusahaan yang dihasilkan semata-mata dari pembuatan barang atau jasa oleh
sebuah perusahaan selama satu periode tertentu.
Pendapatan berasal dari penjualan
barang dan pemberian jasa dan diukur oleh beban yang dikenakan pada pelanggan,
klien, atau penyewa atau barang dan jasa yang diberikan kepada mereka.
Pendapatan ini mencakup juga keuntungan dari penjualan atau pertukaran aktiva
(selain dari saham dalam perdagangan), bunga dan deviden yang diperoleh dari
investasi dan kenaikan lain dalam ekuitas pemilik kecuali yang berasal dari
kontribusi modal dan penyesuaian modal.
b.
Pengukuran pendapatan
Pendapatan diukur dalam satuan
nilai produk atau jasa yang dipertukarkan dalam suatu transaksi yang lugas.
Nilai ini mencerminkan arus kas neto yang ekuivalen ataupun nilai diskonto
tunai dari uang yang diterima dalam pertukaran untuk produk-produk atau
jasa-jasa yang ditransfer perusahaan kepada para pelanggannya.
c.
Pengakuan pendapatan
Dasar akrual untuk pengakuan
pendapatan bisa menyiratkan bahwa pendapatan harus dilaporkan selama produksi,
pada akhir produksi, pada penjualan barang atau penagihan penjualan. Pendapatan
umumnya diakui selama produksi dalam situasi sebagai berikut:
Pendapatan sewa, bunga dan
komisi. Seseoran atau perusahaan yang memberikan jasa profesional. Pendapatan
atas kontrak jangka panjang diakui atas dasar kemajuan konstruksi. Pendapatan
atas kontrak menurut biaya ditambah honorarium. Serta perubahan-perubahan
aktiva karena pertumbauhan memberikan kenaikan pendapatan.
3.
Prinsip Matching
Prinsip ini menyatakan bahwa
harus diakui dalam periode yang sama seperti pendapatan yang bersangkutan,
yaitu pendapatan diakui dalam satu periode tertentu sesuai dengan prinsip
pendapatan, kemudian biaya yang bertalian dengannya diakui. Pengaitan ini
paling baik dicapai apabila dia mencerminkan hubungan sebab akibat antara biaya
dan pendapatan
4.
Prinsip Objektivitas
Keguanaan informasi keuangan amat
tergantung pada keandalan prosedur pengukuran yang digunakan. Karena untuk
memastukan bahwa akan terdapat keandalan yang maksimum seringkali sulit, maka
para akuntan telah menggunakan prinsip objektifitas untuk membenarkan pilihan
suatu pengukuran atau suatu prosedur pengukuran
5.
Prinsip Konsistensi
Prinsip konsistensi menyatakan
bahwa peristiwa-peristiwa ekonomi yang serupa harus dicatat dan dilaporkan
dengan cara yang konsisten dari periode ke periode. Prinsip ini menyiratkan
bahwa prosedur-prosedur akuntansi yang sama akan diterapkna pada pos-pos yang
serupa sepanjang waktu. Penerapan prinsip konsistensi membuat ikhtisar keuangan
menjadi lebih dapat diperbandingkan dan lebih bermanfaat.
6.
Prinsip Pengungkapan
Penuh
Pengungkapan penuh (the full disclosure Principle)
mengharuskan bahwa ikhtisar keuangan dirancang dan disusun agar menggambarkan
secara akurat peristiwa-peristiwa ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan
untuk periode bersangkutan dan berisi informasi yang mencukupi agar membuatnya
berguna dan tidak menyesatkan bagi investor rata-rata.
7.
Prinsip Konservatisme
Prinsip konservatisme adalah
prinsip pengecualian atau modifikasi dalam pengertian bahwa prinsip itu berlaku
sebagai suatu kendala bagi penyajian data akuntansi yang relevan dan dapat
diandalkan.
8.
Prinsip Materialistis
Adalah suatu prinsip pengecualian
yang menyatakan bahwa transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa yang
mempunyai pengaruh ekonomik yang tidak berarti boleh ditangani secepatnya tanpa
menghiraukan sesuai atau tidak dengan prinsip akuntansi yang diterima umum dan
tidak perlu diuangkan.
9.
Prinsip Keseragaman
dan Keterbandingan
Mengacu pada penggunaan prosedur
yang sama oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda.
Konsep dasar akuntansi, terdiri dari:
a. Konsep entitas bisnis (entity theory)
b. Konsep pengukuran uang (money measurement
concept)
c. Konsep kelangsungan usaha (going
concern)
d. Konsep dua aspek akuntansi
e. Konsep biaya
f.
Konsep
periode akuntansi
g. Konsep penandingan (matching concept)
h. Konsep upaya dan hasil (effort and
accomplishment)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus